Simaklah Pemerintah Kaji Penetapan Harga Pokok Penjualan Garam

Kementerian Koordinator Bagian Kemaritiman mulai membahas harga inti penjualan (HPP) garam yang bisa jadikan jadi referensi harga garam petambak tradisionil. Ini dikerjakan jadi satu diantara usaha pemerintah untuk stabilisasi harga garam yang terakhir turun.

Deputi Bagian Pengaturan Sumber Daya Alam serta Layanan, Kemenko Bagian Kemaritiman, Agung Kuswandono, menerangkan jika sejak dikeluarkannya garam dari Peratutan Presiden (Perpres) Nomer 71 Tahun 2015 mengenai penentuan serta penyimpanan barang keperluan inti serta barang penting pemerintah tidak dapat jaga HPP garam. Walau sebenarnya, HPP sendiri penting untuk mengatur harga garam ditingkat petani.

Simak Juga : harga pokok penjualan

“Dahulu di Perpes 71 Tahun 2018 garam dimasukan ke kelompok keperluan inti atau barang penting. Harga inti produksi kita dapat didesak sebab ada Perpresnya, selanjutnya Perpres ini dirubah serta dikeluarkan baru,” tuturnya waktu pertemuan wartawan di Kantornya, Jakarta, Jumat (12/7/2019).

Oleh karena itu, faksinya akan duduk dengan pemerintah berkaitan serta semua pemangku kebutuhan lain untuk saling menyarankan supaya garam bisa kembali dimasukan ke kelompok barang keperluan inti atau barang penting. Dengan demikian, yang akan datang pemerintah dapat memutuskan HPP pada garam.

“Memutuskan ini ialah rekan teman dari KKP serta Kemendag. KKP serta Kemendag selekasnya menyarankan barang keperluan inti garam serta alasan dari Kemenperin serta BPS supaya jangan pernah harga garam jatuhnya mengagumkan,” tuturnya.

Artikel Terkait : bangun datar

Masuk Keperluan Inti
Kolam garam

Agung juga menyarankan jika garam dimasukan kembali pada barang keperluan inti, karena itu HPP-nya sebesar Rp 1.000 per kg, dengan catatan kualitas garam harus level I. Berarti tidak lagi ada nanti, harga garam dibawah yang sudah diusulkan itu.

“Kami ingin garam masuk dalam keperluan inti atau garam yang masuk dengan kualitas level I (K1), jika masuk ke Perpres (nanti) di banderol Rp 1.000 per kg (Kg). Tetapi ini masih saran,” tuturnya.

Awalnya, Agung menjelaskan, rendahnya harga garam ditingkat petambak itu karena kualitas kandungan NaCi-nya tidak sesuai standard kualitas garam. Hal tersebut yang menurut dia mengakibatkan harga pada tingkat petambak turun.

“Keadaan yang sampai kini permasalahannya remeh, barangnya tidak sesuai standard kualitas, (tetapi petambak) meminta dihargai pada harga standard,” tuturnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s